Taken fron okezone.com

Published on 06 March 2020

ESKALASI akan karakter virus korona/Coronavirus Disease (COVID-19), hingga saat ini belum bisa terbaca dengan jelas. Salah satu contohnya, merujuk pada masing-masing satu kasus, yang terjadi di China dan Jepang.

Di China dan Jepang, diketahui ada kasus yang mana pasien virus korona/COVID-19 sudah sembuh dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Namun, tak selang beberapa lama setelah keluar dari rumah sakit.

Pasien tersebut mengalami lagi salah satu gejala terinfeksi, yakni tubuhnya mengalami demam. Setelah melakukan pemeriksaan di rumah sakit, hasil pemeriksaan menunjukkan pasien kembali positif terjangkit virus korona/COVID-19.

Merujuk pada kasus ini, mengapa pasien yang tadinya sudah pulih, lalu bisa kembali terjangkit dan dinyatakan positif? Apakah hal ini karena pengobatan dan perawatan pada pasien yang dilakukan di rumah sakit belum tuntas? Atau, apakah virus korona/COVID-19 ini mengalami mutasi yang tidak bisa dibaca?

Ketika ditanya mengenai kemungkinan terjadinya mutasi virus korona/COVID-19, menurut Kepala Divisi Penyakit Infeksi dan Obat Tropik, Department of Internal Medicine RSPAD Gatot Soebroto, Dr dr Soroy Lardo, SpPD, FINASIM, yang namanya virus memang mempunyai karateristik sendiri. Dia mengatakan, virus korona/COVID-19 ini masih dalam proses patogenitas.

“Virus korona/COVID-19 dalam proses perjalanan patogenitas virus. Virus itu ada yang sifatnya akut kayak virus DBD (demam berdarah). Virus korona ini proteinnya lagi diteliti,” ungkap Dokter Soroy saat ditemui Okezone, Jumat (6/4/2020) dalam acara “Media Briefing Koloborasi HDI dan Kemenkes” di Cikini, Jakarta Pusat.

Jika melihat kasus yang terjadi pada pasien di China dan Jepang, Dokter Soroy berpendapat kemungkinan hal tersebut, terjadi karena ada proses mekanisme yang keliru.

“Kalau sampai positif lagi, kemungkinan ada mekanisme yang salah. Bisa satu mutasi terjadi, ini hubungannya ke biomokuler harus diperiksa di laboratorium,” tambahnya.

Kalau melihat penyakit ini, bisa tidak menunjukkan gejala (asymptomatic), padahal virus korona COVID-19 tersebut masih ada. Dokter Soroy mengungkapkan, memeriksa jejak penyebaran bukan hanya harus dilakukan oleh para dokter. Namun harus disokong dengan survelens, agar bisa menentukan zona isolasi.

“Tanpa gejala namun virusnya masih ada, jadi ini bukan hanya tugas dokter harus da survelensnya. Lihat tracking jejak penyebarannya ke mana, kalau enggak diikuti kita jadi enggak tahu menentukam zona isolasinya,” pungkas Dokter Soroy.

Article source: okezone.com