Taken from viva.co.id

Published on 06 March 2020

Belum lama ini para pakar menyebut bahwa virus corona (COVID-19) dapat mati dalam suhu tinggi. Corona diklaim dapat mati dalam suhu di atas 56 derajat Celsius.

Dengan adanya temuan seperti itu, belakangan banyak masyarakat di Indonesia yang berspekulasi bahwa untuk mencegah penularan virus corona, bisa dengan rajin mengonsumsi air panas. Seruan ini ramai di media sosial, tapi apakah benar demikian? Kepala Jaringan Medis HDI, dr. Ivan Hoesada, M. Biomed, angkat bicara.

“Enggak juga. Bukan air hangat suhu berapa. Jadi kita cukup banyak minum air putih aja udah bagus karena mengurangi risiko radang,” katanya di HDI Menteng Jakarta Pusat, Jumat, 6 Maret 2020.

Dia melanjutkan, masyarakat bisa mengonsumsi air mineral dalam jumlah yang cukup untuk menghidrasi tubuh dan mencegah radang. Jika normalnya dalam satu hari disarankan minum air mineral sebanyak 2 liter atau 8 gelas, mungkin saat ini bisa mengonsumsi air sebanyak 10 gelas.

“Ada juga disarankan minum jahe, karena hangat. Dengan suhu tubuh hangat atau normal, virus tidak mudah bermodifikasi,” lanjut dia.

Ivan melanjutkan, kematian virus corona di paru-paru karena pneumonia, radang paru, stadium ADRS (Acquired Distress Respiratory Syndrome). Begitu masuk ADRS, awal terjadinya virus corona tiba-tiba jatuh dan meninggal karena gagal nafas.

“Otak tidak boleh terlewati aliran darah oksigen. Paru berhenti bekerja, darah juga kan enggak ada yang mompa,” kata dia.

Mengingat darah terdiri dari plasma yang merupakan cairan, maka kekurangan cairan tubuh juga dapat menghambat proses peredaran oksigen yang diangkut darah ke berbagai area tubuh seperti otak.

Article source: viva.co.id