Taken from haibunda.com

Published on 08 March 2020

Virus corona atau COVID-19 kini menjadi perhatian utama di Indonesia. Pasalnya sudah ada beberapa orang yang sudah sakit akibat virus corona. Menurut Dr.dr.Soroy Lardo, Sp.PD, penyakit ini berkembang membentuk karakter-karakter. Bukan hanya dari daerah ke daerah tapi sudah dalam bentuk transboundary disease, masuk ke area antar negara.

“Jadi kalau kita lihat, sekarang ini infeksi virus corona itu sudah masuk public health emergency. Tadi rapat dari Kemenkes bahwa ada 8 rumah sakit rujukan, itu sudah bukan lagi public health emergency tapi sudah masuk hospital emergency. Jadi antara public health dan hospital ini sudah harus bersinergi untuk menangani penyebaran virus corona,” ujarnya saat mengisi acara Media Briefing Kolaborasi HDI dan Kemenkes Lawan COVID-19, di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2020).

Kalau kita bicara tentang virus, merupakan suatu kuman yang punya karakteristik. Virus ini bisa berperan terhadap tubuh yang sangat rentan reproduksi dan replikasi virus.

“Virus punya suatu struktur protein, nah ini yang justru harus diteliti. Bagaimana protein-protein yang bermutasi pada virus corona nanti dicari anti protease-nya,” ujar Soroy.

Virus corona ini punya efek cytopathy, Bunda, yang bisa direct merusak sel tubuh. Ini juga yang menjadi pertanyaan bahwa kemungkinan ada mutasi virus dari 14 hari bisa 2 x 14 hari. Dalam hal ini virus bisa penetrasi yang akhirnya mengakibatkan kerusakan paru-paru.

“Ini cukup kompleks tapi infeksi virus itu tidak berjalan sendiri. Jadi dia akan masuk ke pembuluh darah ditangkap oleh reseptor, virus itu punya tempat. Tidak semua sel itu bisa ditangkap. Dia masuk ke organ, ke paru-paru bisa ke epitel saluran pernapasan,” kata Soroy.

Untuk itu, tubuh yang punya daya tahan yang tinggi bisa mencegah infeksi virus. Nah, berangkat dari keresahan masyarakat tentang virus corona karena sampai sekarang belum ada obatnya, akhirnya mereka beralih ke obat herbal dan jamu. Alhasil, harga-harga bahan jamu pun meroket, Bunda.

Suplemen-suplemen yang membentuk antibodi pun laku keras. Salah satunya propolis, dilansir detikcom, peneliti dari Universitas Indonesia kini sedang meneliti propolis yang dianggap bisa menjadi penangkal virus corona.

Bicara soal propolis, ternyata sebelumnya Soroy dan rekan-rekannya telah melakukan penelitian ekstrak propolis dengan penyakit DBD (demam berdarah dengue. Pasien dibagi dua kelompok yang mendapatkan propolis dan placebo.

“Ternyata hasilnya waktu itu propolis sangat bermanfaat bagi obat anti inflamasi pada DBD. Sehingga waktu rawatnya lebih pendek, trombositnya cepat naik, dan satu lagi kita periksa marker peradangan pada propolis perubahannya lebih banyak,” kata Kepala Divisi Tropical Medicine and Infectious Disease di RSPAD Gatot Subroto itu.

Kata Soroy, penelitiannya itu untuk memecahkan ribuan testimoni tentang khasiat propolis yang ada di Google. Belum ada publikasi ilmiah secara resmi yang membuktikan.

“Jadi basicnya virus punya sifat yang bisa aktivasi ke dalam tubuh, yang kedua bersifat patogen jadi bisa merusak sel. Propolis itu mengandung Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE), CAPE menghambat dua proses itu,” kata Soroy.

“Makanya penelitian ini, dari data-data laboratorium, marker tadi amat berarti. Virus corona punya karakteristik yang berbeda, tapi kalau perbaikan sistem imun propolis punya tempat. Dari segi recovery dan bugar lebih cepat,” ujar Soroy.

Article source: haibunda.com